Rasio Semakin Tipis
Kamis 8 Maret 2007, Jam: 9:10:00

Sungguh. Kita seperti kehabisan kata-kata ketika berhadapan dengan bencana demi bencana yang datang silih berganti di negeri ini. Nyaris tak ada jeda. Seolah kita tak diberi kesempatan untuk sekadar menghela nafas, untuk sekadar menguatkan hati. Sebagai bangsa, kita sepertinya dipaksa untuk menengokkan kepala ke belakang. Pernahkah kita berada pada titik situasi seperti ini?

Tenggelamnya Ferry Senopati Nusantara di Laut Jawa, hilangnya Adam Air di perairan Sulawesi, tabrakan kereta api di Banyumas, angin puting beliung di Yogyakarta, terbakar dan tenggelamnya KM Levina I di perairan Pulau Seribu, tanah longsor di Manggarai, Flores, disusul gempa di Padang, Sumatera Barat, dan terbakarnya pesawat Garuda Air di Yogyakarta.

Dari sisi penyebabnya, bencana memang tak bisa dipukul rata. Ada bencana alam yang kehadirannya di luar kendali kita sebagai manusia. Ada bencana manajemen yang sifatnya lebih struktural. Ada bencana akibat kelalaian yang kasuistis individual. Tetapi dari sisi akibat, bencana adalah bencana ketika ratusan nyawa melayang, ribuan orang teraniaya atau tersiksa.

Tetapi semua itu agaknya belum cukup bagi kita untuk sedikit bijak menyikapi bencana. Tengok saja dalam soal penyebab, bencana akibat kesalahan manajemen dipelintir sebagai bencana alam sekadar untuk mengalihkan beban ganti rugi kepada negara. Atau bencana manajemen dituduhkan sebagai kesalahan orang per orang untuk menghindari tanggungjawab hukum. Atau dalam situasi lain, tanggungjawab profesional menyangkut kinerja pejabat tinggi dialihkan sebagai persoalan politis.

Cara-cara seperti itu hanya menumbuhkan satu keyakinan, setiap bencana akan disusul dengan bencana lain. Bencana alam, misalnya, hampir selalu diikuti dengan bencana manajemen yang memungkinkan maraknya korupsi bantuan. Bencana manajemen yang bersifat struktural sering kemudian diikuti dengan bencana politik di kalangan elit yang dalam pikirannya cuma ada satu tujuan, kekuasaan.

Ketika menengok ke belakang, itulah yang pertama kali terlihat. Betapa tipis sudah kemampuan kita dalam mengelola setiap bencana secara bijak. Mungkin ya, bila itu dimaksudkan sebagai semakin berkurangnya perbekalan materi kita untuk membantu. Mungkin juga ya, bila itu terkait dengan kemampuan teknis termasuk ketersediaan teknologi untuk memberi pencegahan dini atau pertolongan darurat.

Mungkin bagi sebagian orang atau mungkin malah kebanyakan orang, rangkaian bencana itu juga menipiskan rasio mereka. Setiap bencana atau musibah, satu per satu bisa diurai penjelasannya secara rasional. Tetapi unsur sekuel atau keberuntunan yang terasa sangat kuat, memaksa kita berpaling pada penjelasan di luar rasio. Manusia toh mahluk yang bukan cuma menggunakan rasio untuk bisa bertahan hidup. Pemerintah selayaknya tanggap pada situasi di atas. Solusi, apa pun bentuknya, harus memperhatikan aspek psikologis bangsa yang terus menerus diterpa bencana. ***

http://www.poskota.co.id/redaksi_baca.asp?id=583&ik=31