Air Minum dari Sungai Purbakala
Nurvita Indarini – detikcom

Jakarta – Setiap kali Jakarta tergenang air saat musim hujan, pasti air itu langsung dibuang ke laut. Padahal jika memanfaatkan sungai purbakala, air itu bisa menambah cadangan air minum.

“Bila air itu masuk dalam waduk resapan yang memanfaatkan sungai purba yang ada di bawah tanah, maka kita bisa menghemat air,” ujar hydro geologist dari Masyarakat Air Indonesia Fatchy Muhammad di Kementerian Ristek, Jl MH Thamrin, Jakarta.

Kandungan pasir di endapan sungai purba bisa digunakan untuk menyimpan air, sebagai air tanah. Sebab biasanya sungai purba banyak mengandung pasir.

“Kalau ada pasir kan bisa meresap, sehingga genangan air di permukaan tanah berkurang. Kalau dibuang langsung ke laut kan sayang,” imbuh Fatchy.

Menurut dia, air tanah yang ada di Jakarta sekitar 2.000-3.000 meter kubik per tahun. Padahal luas Jakarta 650 km persegi. Sehingga sebenarnya air yang bisa dikeluarkan 1,3 miliar kubik.

“Apalagi katanya muka air tanah turun 1 meter tiap tahunnya, jadi harus hemat air,” lanjut Fatchy.

Daerah Jakarta Barat dan utara bahkan air tanahnya sudah mulai asin. Hal itu karena adanya interusi air laut. Dengan volume air tanah yang berkurang, maka bakteri coli semakin banyak.

“Penyimpanan air dalam tanah sebagai air tanah melalui waduk resapan dan perlakuan pada air tanah yang asin, maka lama kelamaan cadangan air baku bisa bertambah. Ini untuk konservasi,” beber pria berkacamata ini.

Keterangan Foto:
Waduk resapan di Kampus UI yang menindih sungai purba (Indra Shalihin/detikcom)(sss/nrl)

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/03/tgl/13/time/165501/idnews/753685/idkanal/10