Bencana dan Introspeksi Diri
Andreas A Yewangoe

Negeri kita tidak henti-hentinya dirundung malang. Malapetaka demi malapetaka terus menimpa, baik yang murni disebabkan alam, maupun karena keteledoran manusia.

Betapa tidak. Kita belum selesai dengan lumpur Lapindo, yang sejak sembilan bulan lalu menyembur tanpa dapat dicegah dan menutupi desa-desa di Sidoarjo, kita menghadapi lagi berbagai bencana baru.

Air bah yang menutupi 70 persen Kota Jakarta, sehingga memudarkan kewibawaannya sebagai Ibukota Negara, sampai sekarang masih terus melekat dalam ingatan kita.

Sementara kita berusaha memulihkan kembali kehidupan di Ibukota, kita ditimpa lagi berbagai malapetaka lain, tanah longsor di Manggarai (NTT), gempa di Solok dan sekitarnya (Sumatera Barat), angin puting beliung di Yogyakarta, dan malapetaka-malapetaka lainnya.

Kita pun masih termangu- mangu dengan kecelakaan beruntun lalu-lintas: pesawat Adam Air yang sampai sekarang belum diketahui rimbanya, kecelakaan KM Senopati Nusantara yang sebagian besar penumpangnya belum ditemukan, berkali-kali kereta api anjlok, dan seterusnya.

Sebelum mampu mencerna itu semua, tiba-tiba kita dikejutkan la-gi dengan terbakarnya Ro-Ro Levina I di Teluk Jakarta dan pesawat Garuda di Bandara Adi Sutjipto-Yogyakarta.

Levina I malah masih meminta korban lagi justru ketika sedang diteliti orang-orang yang mestinya mampu menyelamatkan diri. Sedangkan kecelakaan Garuda juga sangat “aneh”, karena terjadi di pagi cerah yang indah ketika para awak berada pada puncak kesegaran setelah istirahat malam sebelumnya.

Semua itu membuat kita gundah. Wajarlah apabila di tengah kegundahan itu kita bertanya, ada apa sesungguhnya dengan bangsa kita? Mengapa bencana datang silih berganti? Mengapa kita tidak diberikan waktu menuntaskan dulu akibat bencana-bencana sebelumnya, sudah disusul lagi bencana-bencana lainnya?

Tidak Disiplin

Serangkaian pertanyaan “mengapa” ini sulit dijawab secara memuaskan. Mengenai bencana alam yang murni disebabkan oleh alam, tentu “mudah” kita menjawabnya.

Dengan mudah kita mencari dalih, itulah “alam”, kita tidak mampu memprediksinya. Dalih itu pun tidak sungguh-sungguh kuat, sebab oleh kemajuan iptek sekarang bukannya tidak dapat sama sekali kita mengantisipasi berbagai bencana alam serta berbagai dampaknya.

Akan halnya musibah yang disebabkan oleh manusia, kita hanya dengan mengurut dada mengacu kepada ketidakdisiplinan kita. Bangsa kita memang terkenal sebagai bangsa yang tidak disiplin pada segala lini. Gambarannya bisa dilihat dengan sangat mudah di mana-mana. Dalam berlalu lintas di jalan raya, misalnya, kita cenderung gemar bercanda dengan maut.

Mau lihat lagi contoh di mana percandaan dengan maut dilakoni? Tengoklah di pompa bensin. Tiba- tiba saja ada orang yang merokok tanpa merasa bersalah sedikit pun. Atau tidak mematikan mesin mobil ketika sedang mengisi bensin, sementara kita tahu betul percikan api sedikit saja akan menghanguskan segala sesuatu.

Hebatnya bah Jakarta yang senantiasa berulang itu, bukan saja disebabkan oleh alam, tetapi oleh ketidakmampuan kita memelihara saluran-saluran air pembuangan. Secara mudah kita membuang sampah ke dalamnya. Ketika disiplin diremehkan, maka malapetaka, besar atau kecil, sudah menanti untuk mencelakakan kita.

Di tengah berbagai kegalauan itu, kalau ada seruan untuk melakukan introspeksi diri, akan terdengar sangat wajar. Telah terlalu lama kita sibuk dengan berbagai kesibukan, sehingga tidak tersisa waktu sedikit pun untuk melakukan pe- renungan.

Introspeksi pada hakikatnya adalah upaya untuk meneropong ke dalam kedalaman diri kita secara jujur dan rendah hati. Seakan-akan kita memperoranglainkan diri kita dan menyiasati apa yang telah kita lakukan, lakoni, dan kerjakan dalam berbagai relasi kita yang ber- sisi tiga.

Sebagai orang beragama, kita mengakui relasi kita dengan Allah. Sebagai makhluk sosial, kita menjalin relasi dengan sesama. Sebagai insan yang hidup kita tidak saja dikondisikan oleh alam, tetapi juga berelasi dengannya dalam rantai ekologis yang tidak putus-putusnya. Relasi- relasi itulah yang dijaga keharmonisan dan ke- seimbangannya.

Sekali keharmonisan dan keseimbangannya terganggu, bencana akan melanda kita. Tidak berlebihan kalau dikatakan, berbagai bencana yang kita alami selama ini di- sebabkan terganggunya relasi bersisi tiga itu.

Tobat Sosial

Maka seruan untuk berintrospeksi dapat juga diinterpretasikan sebagai sikap pertobatan, tidak sekadar dalam arti ritual tetapi juga secara sosial, bahkan kehidupan. Tobat ritual adalah pertobatan yang dilakukan melalui cara-cara ritual di dalam gedung-gedung ibadah.

Di dalamnya kita dapat berdoa sangat khusyuk, berzikir sangat mendalam, menyerukan Nama Allah dengan penuh kesedihan, bahkan dengan uraian air mata.

Secara psikologis, kita pun merasa terbebas dari berbagai beban yang selama ini menekan. Apakah semua ini berguna? Tentu saja, tetapi tidak cukup. Tobat ritual yang hanya berhenti di situ cenderung mengarah ke masa lampau, kepada perbuatan-perbuatan dosa yang telah dilakukan. Ia masih harus dilanjutkan melalui tobat sosial, yang mengarah ke masa depan, yaitu bagaimana mengubah keadaan yang tadinya buruk menjadi baik.

Adakah hubungan dengan sesama selama ini buruk misalnya karena perbuatan KKN yang merugikan semua pihak? Berhentilah dari berbuat KKN. Lebih elok lagi kalau hasil KKN dikembalikan untuk dipergunakan bagi kepentingan bersama.

Apakah merasa tidak senang apabila melihat orang lain berbeda, misalnya karena perbedaan agama yang dianut? Ubahlah sikap itu. Janganlah menyimpan rasa tidak senang itu, misalnya dengan mempersulit orang melakukan ibadahnya.

Apakah cenderung main hakim sendiri? Taatilah hukum, dan serahkanlah pengurusannya kepada yang berwenang untuk itu. Sebagai pejabat Anda cenderung memperjualbelikan hukum bagi kepentingan diri? Stop melakukan itu.

Sebagai anggota DPR Anda hanya prihatin dengan kepentingan diri? Maka kembalilah kepada rel yang benar sebagai wakil rakyat. Sebagai politisi Anda hanya cenderung menghitung-hitung hari kapan kemungkinan berkuasa lagi? Maka jadilah politisi yang benar- benar mengorientasikan diri kepada kesejahteraan bersama, yang mempergunakan kekuasaan bagi kemaslahatan bersama. Dan se- terusnya.

Terhadap alam yang selama ini secara semena-mena kita “perkosa”, berhentilah dari melakukan itu. Tidakkah kita sadar, ketika secara serampangan menggunduli hutan-hutan, kita sesungguhnya sedang memperkosa Ibu Pertiwi yang selama ini mengayomi kita dengan kehidupan?

Ketika kita secara sewenang- wenang mengotori sumber-sumber air, kita sebenarnya sedang mengkhianati Sang Pemberi kesejukan? Maka herankah kita kalau alam berbalik menyerang? Ketika alam dihalang-halangi untuk mencapai keseimbangannya, alam mencari keseimbangannya sendiri, kalau perlu dengan membinasakan kita.

Merenungkan semua itu, kita, dengan demikian bukan saja melakukan tobat sosial tetapi juga tobat kehidupan. Masa ketika segala sesuatu berorientasi kepada manusia (man-oriented) telah lewat.

Sekarang mesti digantikan dengan orientasi kepada kehidupan (life-oriented). Sebagai manusia yang diberi akal-budi oleh Sang Pencipta, kita diminta sungguh-sungguh memelihara dan melaksanakan disiplin di dalam segala bidang kehidupan.

Tentu kita senang karena Pe- merintah menyerukan introspeksi diri. Itulah kewajibannya. Tetapi, akan jauh lebih mendasar dan mengakar apabila sikap introspeksi diri itu bersumber dari kesadaran diri kita yang paling dalam.

Penulis adalah rohaniawan; Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
————————
Last modified: 14/3/07
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/15/Editor/edit01.htm