Peta Batavia, “Kisahnya” Jakarta
Rudy Badil

Tulisan kata sederhana “Jacatra” sudah tercantum dalam peta kuno Belanda tahun 1602. Nama tempat yang kemudian menjadi Jakarta merupakan kata asli yang diduga berasal dari nama Jayakarta, sebelum Jan Pieterszoon Coen menduduki desa bandar di muara Sungai Ciliwung lalu mengubahnya menjadi Batavia. Inilah cikal bakal DKI Jakarta pada tahun 1621.

Peta tua buatan tahun 1602, dan seterusnya hingga peta awal abad XX, bagi Kees Grijns yang pakar sosiolinguistik Indonesia dan Melayu memang data tambahan catatan sejarah kuno Jakarta di zaman Batavia. “Batavia bukan didirikan di atas reruntuhan kota Jayakarta, melainkan permukiman buatan baru itu didesain dengan model kota Belanda abad ke-17.

Maka, tidak aneh kalau dalam peta kuno sulit menemukan kata-kata asli Indonesia sebab nama jalan dan kanal juga benteng-benteng semuanya pakai nama Belanda. Baru kemudian nanti, berdasarkan kartografi Belanda tahun 1860 buatan I de Rosa, tercantum nama asli, semisal kata Anke untuk Kali Angke, Sontaarsche Weg atau Jalan Sunter dekat Kali Sunter, serta Angiol untuk Ancol.

Lebih jauh, peta tua buatan surveyor tanah itu, menurut almarhum Grijns, memuat kata-kata asli penamaan lokasi dengan ejaan tulennya, seperti Pakoelitan, Djambatang Tiga, Land Sereal, Laan Patodjo, Doerie, Pekapoeran, Goenoeng Karang, Manga Besaar, Kemajoran, Pasaijoran, Kebong Djerook, Tjampaka Poeti, Pedjambon, Kwitang, Cramat, Salemba, Koenan Diga, dan Menting.

Baru pada catatan peta buatan tahun 1918, makin bertambah nama-nama jalan dan daerah yang selain memakai penamaan asli atau toponim, juga nama “terjemahan” atau adaptasi dari Belanda, misalnya Sanggerlang dari Slingerlaan, Jaagpad menjadi Djapat, Groote Rivier jadi Kali Besar, atau kantor telegram jadi Kantor Kawat.

Lalu beberapa daerah yang terkenal sebagai kawasan kebun penduduk asli, seperti Kebon Sirih, Kebon Kopi, Kabon Sayur, Kebon Pala, dan 20-an nama kebun lainnya, menjadi nama kawasan dan nama jalan dalam peta awal abad XX lalu.

Begitu pula nama daerah dan nama jalan dengan awalan kata dukuh, pondok, dan terutama kampung, menjadi sebutan jamak di peta Batavia. Sebab, sejak lama sudah ada nama Kampung Bali, Kampung Melayu, Kampung Bugis, Kampung Jawa, Kampung Bandan, dan lainnya.

Sebutan kampung di daerah itu bukan karena mayoritas warganya berasal dari etnis sama. Penamaan itu mungkin berlatar belakang sejarah sebab dulunya kawasan itu merupakan konsentrasi etnis seasal daerah, di zaman gelap Batavia yang masih mengenal “perbudakan”.

Selebihnya, peta-peta Batavia kian lengkap dan meluas keterangannya. Umumnya toponim peta tua itu berdasarkan nama lingkungan alam, misalnya gunung, bukit, tegalan, utan, rawa, pulo, sungai, kali, tanjung, situ, muara, dan sawah. Termasuk nama pohon dan buah-buahan, seperti mangga, jambu, dan asem. Termasuk pula nama berdasarkan suatu kejadian, misalnya Kampung Angus, Kebon Kosong, Jembatan Busuk, Kali Mati, Rawa Bangke.

Nama-nama kembar

Jakarta atau Djakarta yang kian memekar hebat tiba-tiba menjadi nama resmi ibu kota Indonesia sejak hari kemerdekaan 17 Agustus 1945. Nama jalan pun kontan berubah, khususnya jalan protokol di pusat kota. Misalnya Oranjeboulevard menjadi Jalan Diponegoro, Van Heutzboulevard berubah jadi Jalan Teuku Umar. Kecuali Jacatraweg menjadi Jalan Jakarta, Financienweg sama dengan Jalan Pinangsia, Abatoirweg pun jadinya Jalan Pejagalan.

Mulai saat itu juga masuk nama-nama pahlawan nasional Indonesia menjadi nama jalan penting di Jakarta. Jalan Gresik menjadi Jalan Sutan Sjahrir, Jalan Madura jadi Jalan Mohammad Yamin, Jalan Asem Lama yang tadinya Tamarindlaand jadi Jalan Wahid Hasyim, serta nama tokoh nasional lainnya.

Pemekaran ibu kota yang memekar ke arah botabek diiringi dengan meledaknya kompleks perumahan sebagai penampung warga Jakarta yang surplus berjutaan jiwa. Otomatis bermunculan pula nama-nama jalan baru dengan kaidah masa kini.

Kees Grijns yang membagi telaah toponimik jalan dan kawasan di sekitaran Jakarta tidak mampu lagi membagi kategori penamaan jalan gaya zaman sekarang. Sebab, nama asli setempat hanya dipakai untuk penamaan kelurahan dan kecamatan saja. Entah bagaimana, ada kecenderungan penamaan jalan kompleks perumahan memakai nama pohon, bunga, dan burung. Hingga tak mustahil ada ratusan nama jalan kembar di sekitaran Jakarta.

Pakar Belanda itu juga sempat meneliti cermat nama Jalan Flamboyan yang ada 200-an di Jabotabek. Atau juga cukup bingung membaca nama Jalan Cenderawasih yang ratusan pula. Malah, ada dua kompleks besar yang namanya beda-beda tipis, Bintaro yang di barat dan Bintara yang sebelah timur.

Meski tak meneliti cermat, diduga pebisnis real estat emoh memakai nama rawa, utan, sawah, kali, dan kampung. Mungkin khawatir disebut kampungan. Yang terjadi justru tindakan semena-mena, saling contoh dan contek, asal nama itu cocok dengan selera pasaran yang maunya pakai merek graha, puri, pondok atau griya lalu dengan gelar tambahan indah, baru, permai, atau damai…. Aduhai!

RUDY BADIL (Wartawan, Tinggal di Jakarta)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/14/metro/3383829.htm