CATATAN PAGI
Republik Ini Sedang Sakit

Jumat, 16 Maret 2007, 09:58:42 WIB
Oleh: Zaenuddin HM, Pemred NonStop

Jalanan, kami sandarkan
cita-cita. Sebab di rumah
tak ada lagi yang bisa
dipercaya… — Iwan Fals

REPUBLIK ini sedang sakit? Boleh jadi. Di tengah deraan banyak bencana, banyak pula orang nekat mengakhiri hidup secara tak lazim. Gantung diri, minum racun, melompat dari gedung tinggi, dan menembak mati orang lain, hampir terjadi saban hari.

Apa yang bisa difahami dari fenomena ini? Dari sejumlah kasus, bisa dilihat faktor-faktor pemicunya. Kemiskinan, misalnya, seringkali menjadi alasan. Di Bekasi pernah seorang pemuda menggantung diri lantaran tidak tahan menganggur. Dia malu karena hidup luntang-lantung.

Di beberapa daerah ada pelajar sekolah dasar bunuh diri (juga dengan menggantung diri) karena malu belum membayar uang SPP. Seorang bapak nekat menggantung diri karena tidak tahan terlilit utang dan menghadapi kesulitan ekonomi keluarganya.

Pekan lalu di Malang, Jawa Timur, seorang ibu bunuh diri setelah meracuni empat anak bocahnya dengan cara memberi racun pada minuman. Tindakan keji dan tragis itu dilakukan akibat usaha suaminya bangkrut dan jatuh miskin.

Sebelumnya, banyak pula orang yang nekat melompat dari gedung tinggi seperti hotel dan apartemen. Sebabnya, selain karena konflik dengan orang lain, juga ada yang karena kelilit utang. Ini mengingatkan kita pada peristiwa sejenis beberapa tahun silam, yang menimpa konglomerat Marimutu Sinivasan.

Modus lain, ada juga orang nekat menembak diri sendiri, atau menembak orang lain. Paling anyar adalah tragedi penembakan Wakapolwiltabes Semarang, Lilik Purwanto, yang dilakukan bawahannya. Insiden berdarah ini meletus karena pelaku tidak ikhlas dimutasi.

Secara sosiologis, kemiskinan bukanlah faktor utama pemicunya. Sebab banyak orang miskin bisa menahan diri dan hidup normal. Melainkan adalah masalah mentalitas. Banyak orang mengalami mental tidak beres. Sosiolog Max Weber mengatakan, perubahan masyarakat yang cepat dan pesat yang tak diimbangi dengan keadilan sosial, bisa menimbulkan tekanan-tekanan mental.

Para pelaku bunuh diri baik dengan racun, gantung diri atau menembak orang lain, seringkali memang dalam kondisi mental tertekan. Masalah hidup, problem keluarga dan ekonomi, persaingan dan rivalitas kerja, bisa menimbulkan stres berat dan depresi mental. Orang cenderung ingin lari dari masalah itu, dan yang tak kuat mental memilih bunuh diri.

Bila dijabarkan, banyak lagi faktor lain yang mendorong tekanan-tekanan mental itu meledak. Ketidakadilan di bidang hukum dan ekonomi, ketidakpastian di masyarakat, terorisme, korupsi, dan jurang pemisah kaya-miskin, juga krisis moral, telah ikut mempengaruhinya.

Banyaknya kasus bunuh diri itu tidak bisa dilihat hanya dari sisi korban. Tetapi dari perspektif yang lebih luas: masyarakat dan pemerintah. Sejumlah kasus itu, boleh jadi cermin masyarakat dan bangsa ini yang sedang sakit; kita sedang mengalami mental yang tidak sehat dan mungkin rusak.

Para pakar psikologi dan komunikasi menduga, kini banyak orang mengalami hambatan dalam mengatasi tekanan-tekanan mental itu. Mereka kesulitan mengungkapkan persoalan-persoalan hidup yang bisa mengurangi beban dan tekanan. Kemana dan kepada siapa.

Di dalam keluarga, misalnya, banyak orangtua tidak bisa menjadi tempat curhat anak-anaknya. Di masyarakat, banyak tokoh dan pemuka agama tidak bisa menjadi panutan dan tempat berlindung. Dalam politik, lembaga-lembaga pendapat umum khususnya DPR/DPRD gagal jadi saluran aspirasi publik. Apalagi pemerintah, terlalu jauh jurang pemisah dengan rakyatnya.

Tidak ada yang bisa digunakan sebagai katarsis (penyaluran) hasrat dan aspirasi publik. Tidak ada dialog dan komunikasi yang baik. Maka jalanan, dan berbagai tindak kriminal — termasuk bunuh diri — seringkali menjadi pilihan; karena dianggap sebagai jalan keluarnya. Inilah gambaran dari sebuah bangsa yang sakit. (zhm@yahoo.com)

http://www.rakyatmerdeka.co.id/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=30400