Stadion Persija Hilang, Taman Menteng Datang
Mulyawa Karim

Mereka yang pernah akrab dengan Stadion Persija pasti terkesima dan terharu apabila mengunjungi kembali lokasi stadion sepak bola di wilayah Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, itu. Saat ini di sana tak ada lagi lapangan hijau tempat para legenda sepak bola Jakarta, macam Iswadi Idris, Abdul Kadir, Ronny Pattinsarani, dan Anjas Asmara, biasa merumput.

Stadion Persija, stadion sepak bola tertua di Jakarta, kini sudah tiada lagi. Sebagai gantinya, kini di atas lahan seluas 3,4 hektar bekas lokasi stadion yang dibangun tahun 1921 itu terhampar taman baru penuh tanaman hias dan pepohonan hijau besar-kecil.

Bangunan tribun utama yang dulu ada di sisi barat lapangan hijau, membelakangi areal parkir di tepi Jalan HOS Cokroaminoto, sudah rata dengan tanah. Lokasi bangunan besar dari kayu jati itu kini menjadi bagian dari taman baru itu, yang untuk sementara disebut Taman Menteng.

Bangunan lain yang pernah menempel persis di belakang tribun utama itu juga sudah dibongkar habis. Kecuali menjadi lokasi loket penjualan karcis dan pintu masuk stadion, di dalam bangunan itu dulu juga ada ruang ganti pakaian pemain serta ruangan yang pernah puluhan tahun menjadi kantor Sekretariat Persatuan Sepak Bola Jakarta (Persija).

Nasib yang setali tiga uang juga dialami Mes Persija, bangunan berlantai dua di sisi selatan lapangan, di pinggir Jalan Sidoarjo. Di lahan tersebut kini sudah berdiri gedung parkir berlantai tiga yang bisa menampung 150 mobil.

Taman

Taman Menteng dilengkapi sejumlah jalan setapak semen, konblok, atau keramik aneka warna. Pada tiga persimpangan utama, di bagian pusat taman, ada pelataran terbuka luas berhias kolam air mancur. Melengkapi fasilitas bagi pejalan kaki, ada pula jalan setapak yang lebih lebar, menyilang dari sudut barat laut ke arah tenggara.

“Oleh perancangnya, jalan setapak itu disebut Plasa Kontemplasi,” tutur Heri Triwinarto, insinyur Jaya Konstruksi, perusahaan kontraktor pembangun Taman Menteng. Manajer proyek pembangunan Taman Menteng itu menambahkan, secara arsitektural, Plasa Kontemplasi merupakan unsur yang mengikat dan menyatukan berbagai elemen lain di taman itu.

Ruang terbuka publik

Taman Menteng bukan sekadar taman lingkungan seperti yang biasa ada di lingkungan permukiman. “Karena tergolong taman besar, Taman Menteng bisa disebut taman kota, taman yang dapat dimanfaatkan oleh segenap warga Jakarta,” kata Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta Sarwo Handhayani.

“Ini adalah ruang terbuka publik serba guna yang diharapkan bisa memenuhi berbagai kebutuhan warga Jakarta dalam melakukan aktivitas di luar rumah, termasuk berolahraga,” lanjutnya

Oleh karena itu, Taman Menteng juga dilengkapi sejumlah fasilitas tambahan. Agak ke tengah, di sisi timur, terdapat taman bermain. Anak-anak bisa bermain ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit. Juga agak ke tengah, di sisi barat dan utara, di antara Jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan Moh Yamin, juga dibangun dua rumah kaca yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan, misalnya, pameran lukisan atau tanaman hias.

Di samping lintasan lari (jogging track), di sisi timur, di sepanjang Jalan Kediri, juga dibangun masing-masing satu lapangan basket dan voli serta dua lapangan futsal. Bagi yang masih rindu bermain sepak di Menteng, di bagian tengah taman ada lapangan sepak bola mini berukuran 50 meter x 30 meter. Inilah lapangan rumput terluas yang tersisa di bekas lapangan sepak bola itu.

Sejak masih dalam tahap perencanaan, tahun 2005, gagasan Pemprov DKI untuk mengalihfungsikan stadion sepak bola tertua di Jakarta itu sempat memicu protes berbagai pihak, termasuk pengurus Persija dan masyarakat sekitar. Sebagian menganggap Stadion Persija merupakan monumen historis yang harus dilestarikan. Sebagian lagi tak setuju karena curiga di atas lahan itu bakal didirikan bangunan komersial yan akan mengurangi nilai Menteng sebagai kawasan permukiman yang nyaman. Ada juga yang khawatir, lenyapnya stadion sepak bola itu akan mengurangi lahan areal resapan air, yang akan membuat kawasan Menteng jadi lebih rawan banjir di musim hujan.

Akan tetapi, Gubernur Sutiyoso bergeming. Tekadnya bulat untuk mengalihfungsikan lapangan sepak bola itu menjadi taman kota. Dengan segala konsekuensinya, ia tetap menggusur markas Persija ke Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

“Menurut Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, Stadion Persija tidak termasuk bangunan monumen sejarah yang harus dipertahankan. Secara ekologis, fungsinya juga tak berubah. Taman Menteng tetap dapat berfungsi sebagai areal resapan air hujan,” papar Sarwo di kantornya, Kamis pekan lalu. Ditambahkan, taman baru itu bahkan memiliki persentase lahan terbuka lebih besar ketimbang saat Stadion Menteng masih ada. Apalagi, di sana juga dibuat 48 sumur resapan untuk meningkatkan debit air resapan.

Oleh karena itu, pembongkaran segera dilakukan. Pembangunan pun dimulai pertengahan 2006. Dana tak kurang dari Rp 30 miliar dihabiskan, termasuk untuk membeli ratusan bibit tanaman keras yang kelak akan menyejukkan Taman Menteng, seperti pohon menteng, sawo kecik, kamboja, palem kurma, dan flamboyan.

“Pembangunan Taman Menteng sebetulnya sudah selesai. Tinggal menunggu peresmiannya saja oleh Pak Gubernur. Mungkin bulan April mendatang,” kata Sarwo lagi.

Taman Menteng bukannya tak indah. Taman yang luasnya lebih kurang sepertiga Lapangan Monumen Nasional (Monas) itu juga mungkin benar-benar bakal banyak manfaatnya bagi warga Ibu Kota. Silang pendapat dan saling tuduh yang sempat terjadi mungkin cuma disebabkan karena tak mulusnya proses komunikasi dan sosialisasi antara Pemprov DKI dan warga.

Bagaimanapun, pemprov sebetulnya harus bisa memahami kerisauan warga Menteng pada kemungkinan munculnya berbagai dampak buruk akibat perubahan yang dilakukan di kawasan permukiman mereka. Gubernur juga seyogianya bisa berempati pada jajaran pengurus Persija dan para Jakmania tua yang sudah telanjur punya 1.001 kenangan manis-pahit di Stadion berumur 86 tahun itu.

Nasi sudah jadi bubur. Stadion Persija yang warisan Voetbalbond Indische Omstreken (VIOS), kesebelasan zaman kolonial pendahulu Persija itu, kini benar-benar tinggal kenangan.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/13/metro/3381578.htm