Sungai Blencong Tercemar, Warga Marunda Terkapar

Mulyawan Karim

Husen (35), seorang petambak di Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, mengaku hasil udang di tambaknya terus merosot. Sekitar 20 tahun tahu lalu, saat mulai jadi petambak, dalam sehari ia bisa menjaring udang sampai lima kilogram.

“Sekarang, paling-paling cuma dapat dua kilogram. Itu pun tak setiap hari. Kalau air sedang jelek, berminggu-minggu udang sama sekali tak ada,” keluh warga Kampung Maruda Pulo, salah satu kampung nelayan terujung di bagian timur Teluk Jakarta.

Meski hidup di tambak atau empang, udang peci yang biasa dijaring Husen ialah jenis udang alam. Benihnya masuk ke tambak bersama air Sungai Blencong, sumber air dari tambak-tambak ikan yang ada di Marunda Pulo, termasuk tambak Husen.

Di tambak, Husen sebenarnya menanam ikan bandeng. Akan tetapi, panen bandeng hanya sekali setiap enam bulan. Karena itu, udang peci yang bisa dijaring kapan saja menjadi andalan Husen untuk bisa bertahan hidup dari hari ke hari.

Menurut Husen, dulu hasil dari menjaring udang peci (Penaeus merguiensis) terhitung lumayan, meski ia hanya berhak mendapat separuh dari hasil penjualan. Maklum, Husen cuma buruh tambak yang harus berbagi rezeki dengan pemilik tambak 3,5 hektar yang ia garap.

“Dari usaha menjaring udang peci yang harganya sekitar Rp 25.000 sekilogram, dulu saya bisa dapat uang Rp 75.000 sehari. Sekarang paling-paling cuma bisa dapat dua kilogram. Penghasilan pun hanya Rp 25.000,” kata laki-laki Betawi itu di pinggir tambaknya, Rabu pekan lalu.

Tercemar limbah industri

Husen menyatakan, air Sungai Blencong yang tercemar merupakan penyebab terus berkurangnya populasi udang peci. Air sungai yang salah satu anaknya mengalir persis di sisi tambaknya, kadang-kadang berwarna hitam dengan bau menyengat. Sungai Blencong dengan hulu di Kabupaten Bekasi bermuara di Teluk Jakarta, di wilayah Kelurahan Marunda.

“Kata orang, itu air limbah pabrik. Kalau sungai sedang hitam, benur udang yang terbawa dan masuk ke tambak semuanya mati,” kata Husen.

Air sungai itu kini juga tak lagi bisa dipakai untuk mandi karena akan membuat seluruh badan gatal-gatal.

Abdurahman (45), seorang warga Kecamatan Taruma Jaya, Bekasi, yang juga dilalui Sungai Blencong, menyatakan, pencemaran sungai terjadi karena limbah yang dibuang ke sungai oleh berbagai industri di Bekasi, termasuk pabrik kertas di Kecamatan Babelan, sekitar 20 kilometer tenggara Marunda.

“Saya kira, pabrik kertas itulah yang terutama mencemari Sungai Blencong. Warga di sini dulu biasa memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan rumah tangga. Sekarang, dipakai mandi saja tidak bisa. Di Marunda, pencemaran sebetulnya sudah berkurang karena air sungai sudah bercampur dengan air laut,” kata Abdurahman yang mantan Kepala Desa Pantai Makmur.

Tak diperhatikan

Di Marunda Pulo, tempat Sungai Blencong bermuara, pencemaran tak cuma memerosotkan populasi udang. Air sungai yang hitam juga menyusutkan berbagai sumber daya alam di perairan sekitar muara sungai.

“Pada awal 1980-an, dalam sehari saya bisa menangkap dengan bagan rajungan sampai 20-an kilogram. Sekarang dapat sekilogram saja susah,” kata Mamat, warga lain Marunda Pulo.

Warga asli Marunda berusia 49 tahun itu menambahkan, produksi kerang hijau yang dibudidayakan banyak warga Marunda juga terus merosot.

“Bahkan kerang tiram boleh dibilang sudah punah sama sekali. Pencemaran Sungai Blencong sudah sangat parah, sampai-sampai tiram yang dulu banyak berkembang biak secara alamiah di tambak dan muara, di antara pohon-pohon bakau, kini tak sanggup hidup,” kata Mamat, mantan nelayan yang kini bekerja di galangan kapal.

Menurut Husen, warga Marunda sudah sering mengeluhkan pencemaran itu dan berharap pemerintah menertibkan pabrik yang membuang limbah ke Sungai Blencong. Akan tetapi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan tak bisa apa-apa karena pabrik-pabrik itu berlokasi di Kabupaten Bekasi.

“Akibatnya, sampai sekarang Sungai Blencong masih saja tercemar limbah industri beracun,” kata Husen, salah seorang dari sedikit warga Marunda yang masih mencoba bertahan sebagai nelayan dan petambak.

“Sampai 20-an tahun lalu, hampir seluruh 140 keluarga di Marunda Pulo adalah nelayan. Akan tetapi, sekarang tinggal 20 persen saja. Warga terpaksa banting setir jadi buruh serabutan,” ucap, Mamat.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/12/metro/3376183.htm