Tim Percepatan Rusun Dibentuk

JAKARTA – Pemerintah mempercepat pembangunan program rumah susun seribu tower di perkotaan. Hal tersebut diupayakan dengan menerbitkan Peraturan Menko Perekonomian No 1/2007 yang mengatur organisasi dan tata kerja tim percepatan. Peraturan tersebut juga mengatur koordinasi dengan pemda.

“Peraturan itu mengatur tata kerja organisasi tim percepatan, juga membentuk mekanisme kerja pembangunan rusun di daerah,” kata Menteri Perumahan Rakyat Yusuf Asyari di Kantor Depkeu kemarin. Pembangunan rusun seribu tower dalam lima tahun tersebut tetap mengandalkan pembiayaan swasta.

“Itu termasuk pinjaman lunak dari luar, seperti ADB (Bank Pembangunan Asia), IDB (Bank Pembangunan Islam), dan World Bank. Meski begitu, belum ada yang komit membiayai, masih wacana,” kata Yusuf. Namun, saat ini sudah ada delapan pengembang yang menyatakan minatnya.

Sekretaris Menteri Perumahan Rakyat Noer Soetrisno mengatakan pembangunan rusun sederhana seribu tower diasumsikan maksimum 20 lantai. Dengan begitu setara dengan 600 ribu rumah. Namun, karena aturan tentang tinggi tower berbeda-beda, jumlah rumah diperkirakan antara 350 ribu hingga 600 ribu. “Itu diharapkan dipenuhi dalam lima tahun,” katanya. Harga rusun tipe 21 maksimal Rp 75 juta dan tipe 36 paling tinggi Rp 144 juta.

Tim tersebut, kata Noer, akan mengusahakan kemudahan izin bagi pengembang. “Pada kota-kota yang berpenduduk di atas 1,5 juta itu diprioritaskan, kami dorong perizinannya. Nanti Mendagri akan memberikan dukungan, melalui Permendagri,” ujarnya. Selain kemudahan izin, juga dipastikan fasilitas pembebasan PPN kepada pengembang rusun sederhana.

“Itu harus melalui PP (peraturan pemerintah). Sudah dilakukan konsultasi dengan pimpinan DPR dan disetujui, sehingga tidak ada masalah,” ujarnya. Tim juga mengusahakan skema subdisi uang muka maupun bunga. Namun, pelaksanaan subsidi tersebut tidak dilaksanakan langsung oleh pemerintah.

Kata dia, saat ini sudah banyak pengembang yang berminat, terutama setelah dipastikan adanya pembebasan PPN (pajak pertambahan nilai). “Dari luar negeri juga sudah ada yang mau,” tutur Noer. Menurut dia, investasi yang dibutuhkan untuk satu tower dengan 20 lantai mencapai Rp 70 miliar. Pembangunan rusun tersebut diharapkan bisa menekan pemborosan transportasi akibat perumahan yang banyak dibangun di pinggir kota. “Ketidakhematan transportasi Rp 12,1 triliun setahun.” (sof)

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=276064