Air Bersih, Kado yang Tak Teraih

Caesar Alexey

Pagi masih gelap, saat Yanti menimba air dari sumurnya yang dalam. Namun, hanya seperempat ember air yang tertimba. Di sisi lain, air dari Perusahaan Air Minum atau PAM Jaya tak dapat diandalkan. Bagi Yanti dan sekitar setengah warga Jakarta lain, air bersih jadi kado yang sulit tergapai di ulang tahun kotanya yang ke-480.

Usia Jakarta boleh saja terus bertambah tua, tetapi pelayanan dasar bagi seluruh warga masih buruk. Air bersih, yang menjadi kebutuhan dasar manusia, masih sulit dinikmati semua warga.

Menurut Yanti, warga Petojo Utara, Jakarta Pusat, banyak sumur warga yang mengering setelah gedung perkantoran, pusat grosir, dan apartemen di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, menyedot air tanah dalam jumlah besar. Warga sebenarnya sudah marah karena kesulitan mendapatkan air bersih, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa karena melawan kekuatan modal besar.

Kesulitan yang sama juga diungkapkan Harun, warga Muara Angke, Jakarta Utara. Tidak ada sambungan pipa PAM dan tidak ada sumur air tawar yang dapat dimanfaatkan. “Air sebenarnya banyak tetapi berupa banjir, baik banjir dari sungai maupun banjir dari laut,” kata Harun.

Anggota Badan Regulator (BR) PAM Firdaus Ali mengatakan, masalah mendasar dari krisis air di Jakarta adalah ketidakmampuan kedua operator PAM untuk menyediakan air perpipaan untuk seluruh warga dan dunia usaha. Data BR PAM menyebutkan, jaringan pipa PAM hanya mampu menjangkau 40-60 persen warga Jakarta.

Itu pun masih diperparah dengan tingkat kebocoran yang mencapai 45-55 persen, sehingga hanya sekitar 30 persen warga yang terlayani dengan baik badan usaha milik daerah itu.

Akibatnya, warga dan dunia usaha sangat mengandalkan pasokan air bersih dari dalam tanah. Kondisi lebih parah dialami 1,5 juta warga Jakarta Utara, yang tidak dilayani PAM dan tidak dapat mengambil air sumur, karena terintrusi oleh air laut.

Pengamat Lingkungan Universitas Indonesia Setyo Moersidik, dalam diskusi panel yang diselenggarakan Harian Warta Kota, Kompas, dan Institute for Local Governance Studi (ILGOS) di Jakarta, Kamis (21/6), mengatakan, air sumur warga juga terancam oleh pencemaran bakteri E coli, akibat dekatnya sumur dengan septic tank. Penelitian UI mengindikasikan 82 persen sampel sumur telah tercemar bakteri itu.

Firdaus menambahkan, penyedotan air tanah yang mencapai sekitar 600 juta liter per tahun menyebabkan lapisan tanah turun. Kondisi itu menyebabkan air laut menerobos masuk ke tengah daratan (intrusi), dan merusak kualitas air di sumur penduduk.

Dengan kondisi itu, Jakarta akan semakin mudah dilanda banjir. Warga juga semakin sulit mendapatkan air bersih dari sumur mereka.

Setyo mengemukakan, PAM Jaya juga bakal menghadapi krisis pada tahun 2010. Pasokan air dari Waduk Jatiluhur, Jawa Barat, tidak dapat ditingkatkan lagi saat itu karena adanya sedimentasi. Air juga banyak yang hilang di saluran Kanal Tarum Barat akibat saluran terbuka di Kali Bekasi dan Kali Cikarang.

Potensi konflik

Sosiolog Paulus Wirutomo, pada diskusi panel, mengatakan, kondisi itu memunculkan potensi konflik yang sangat keras pada masa depan. Konflik muncul karena sebagian masyarakat tidak mendapat air bersih dengan mudah dan murah, sementara yang lain mendapat layanan itu.

Menurut Bernard Lafrogne, Komisaris PT Palyja, operator PAM Jaya, konflik sebenarnya sudah mulai terjadi. Di Kemayoran, Jakarta Pusat, misalnya, satu perumahan elite yang sempat mendapat layanan air PAM tiba-tiba tidak mendapatkan air.

Jaringan pipa PAM Jaya dibajak warga lain yang belum terlayani, dan dialirkan ke permukiman mereka.

Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengakui, masalah air bersih sulit diatasi dan menyimpan potensi kerawanan pada masa depan. Oleh karena itu, Pemprov DKI menyiapkan solusi besar, berupa saluran bawah tanah multiguna atau multi purpose deep tunnel, yang selesai 2014.

Saluran itu akan menyimpan air hujan dan luapan air sungai sebagai cadangan air baku. Setelah diolah, air dari saluran itu dapat memenuhi kebutuhan air bersih di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. “Pemerintah terus berusaha untuk menambah pasokan air bersih bagi warga. Namun, usaha itu butuh waktu lama dan biaya yang sangat mahal,” ujar Sutiyoso.

Air bersih memang makin tidak tergapai, di ulang tahun Ibu Kota tercinta ini.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/22/metro/3623888.htm