opini


Bencana dan Introspeksi Diri
Andreas A Yewangoe

Negeri kita tidak henti-hentinya dirundung malang. Malapetaka demi malapetaka terus menimpa, baik yang murni disebabkan alam, maupun karena keteledoran manusia.

Betapa tidak. Kita belum selesai dengan lumpur Lapindo, yang sejak sembilan bulan lalu menyembur tanpa dapat dicegah dan menutupi desa-desa di Sidoarjo, kita menghadapi lagi berbagai bencana baru.

Air bah yang menutupi 70 persen Kota Jakarta, sehingga memudarkan kewibawaannya sebagai Ibukota Negara, sampai sekarang masih terus melekat dalam ingatan kita.
(lebih…)

Iklan

CATATAN PAGI
Republik Ini Sedang Sakit

Jumat, 16 Maret 2007, 09:58:42 WIB
Oleh: Zaenuddin HM, Pemred NonStop

Jalanan, kami sandarkan
cita-cita. Sebab di rumah
tak ada lagi yang bisa
dipercaya… — Iwan Fals

REPUBLIK ini sedang sakit? Boleh jadi. Di tengah deraan banyak bencana, banyak pula orang nekat mengakhiri hidup secara tak lazim. Gantung diri, minum racun, melompat dari gedung tinggi, dan menembak mati orang lain, hampir terjadi saban hari.

Apa yang bisa difahami dari fenomena ini? Dari sejumlah kasus, bisa dilihat faktor-faktor pemicunya. Kemiskinan, misalnya, seringkali menjadi alasan. Di Bekasi pernah seorang pemuda menggantung diri lantaran tidak tahan menganggur. Dia malu karena hidup luntang-lantung.
(lebih…)

Selasa, 13 Maret 2007, 02:31:11
DPR MERDEKA :

Keahlian Penanggulangan Bencana Jangan Diabaikan

SESUAI UU nomor 34 tahun 2004, tugas TNI selain melaksanakan ope­rasi militer untuk perang juga melaksanakan operasi militer selain perang.

Operasi tersebut antara lain membantu penanggulangan akibat bencana alam dan membantu pencarian dan pertolongan dalam ke­celakaan (SAR).Belakangan Indonesia secara bertubi-tubi me­nga­lami musibah, baik musibah bencana alam maupun musibah kecelakaan. Mulai bencana alam tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara, gempa bumi di Jogyakarta dan Jawa Tengah, be­ncana lumpur panas Lapindo, bencana banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta serta bencana alam lainnya.Begitu pula dengan musibah kecelakaan. Mulai dari kecelakaan jatuhnya pesawat Adam Air, tenggelamnya KM Senopati Nusantara, terbakarnya KM Roro Levina 1 serta kecelakaan pesawat Garuda di Jogyakarta.
(lebih…)

Rasio Semakin Tipis
Kamis 8 Maret 2007, Jam: 9:10:00

Sungguh. Kita seperti kehabisan kata-kata ketika berhadapan dengan bencana demi bencana yang datang silih berganti di negeri ini. Nyaris tak ada jeda. Seolah kita tak diberi kesempatan untuk sekadar menghela nafas, untuk sekadar menguatkan hati. Sebagai bangsa, kita sepertinya dipaksa untuk menengokkan kepala ke belakang. Pernahkah kita berada pada titik situasi seperti ini?
(lebih…)

After the flood, time to change people’s mind-set
B. Nicodemus, Jakarta

The impacts of economic development on the environment have been expounded for years. In 1972, the Club of Rome, a global think thank on international issues, published its famous report Limit to Growth, which predicted that economic growth could not continue indefinitely due to the limited availability of natural resources. Fifteen years later, the World Commission on Environment and Development (WCED), chaired by Gro Harlem Brundtland, published its report titled Our Common Future.

The report, also known as the Brundtland Report, introduced environmental concern to the development concept. Next, considering the detrimental effect of excess carbon dioxide in the atmosphere, the Kyoto Protocol was designed in 1997 to cut the emission of CO2 and other greenhouses gases as a response to climate change.
(lebih…)

Indonesians unnecessarily at the mercy of nature
Aris Ananta and Evi Nurvidya Arifin, Singapore

Earlier this month Jakarta — the center of Indonesian politics and business — was inundated by floodwater for about a week. Many thought it was Jakarta’s worst ever flooding, as it paralyzed 70 percent of the city.

The economic impact was felt beyond Greater Jakarta. The flood struck both rich and poor, regular people and elites. It killed at least 54 people and left more than 200,000 homeless. The death toll may yet increase from the water-borne diseases that have emerged in the aftermath of the flood. The financial loss from the flood is expected to reach Rp 8 trillion (US$879 million), pushing up Indonesia’s yearly budget deficit.
(lebih…)

Pelanggaran Serius dalam Pembangunan Jakarta

Ibukota Jakarta ini tidak akan terperangkap masalah kemacetan harian dan banjir tahunan jika pemerintah tunduk pada master plan yang pernah dibuat. Ratusan tahun lalu, penjajah Belanda mendesain kota Batavia ini sedemikian rupa karena menyadari kontur tanah dan kondisi faktual lain yang tidak menguntungkan.

Demikian juga sesudah kita merdeka. Namun, sejak Orde Baru berkuasa, tidak sedikit peraturan pemerintah dikeluarkan atas nama pembangunan, akan tetapi justru menjadikan Ibukota seperti saat ini: macet dan banjir. Lalu untuk apa konsep metropolitan yang belum selesai dipertanggungjawabkan itu diganti dengan konsep megapolitan, jika kondisi Jakarta tetap seperti saat ini? Untuk itu di dalam pembahasan undang-undang pemerintahan Ibukota Jakarta sebelum disahkan di DPR perlu terlebih dahulu dikaji di masyarakat atau disosialisasikan. Juga dijelaskan pengertian istilah-istilah megapolitan kepada masyarakat.
(lebih…)

Laman Berikutnya »