tip_kiat


SMA 6 Bogor Bebas Banjir

Mereka memiliki 14 sumur resapan yang terbukti ampuh mengerem terjangan banjir. Dalam waktu dekat pihak sekolah akan menambah jumlah sumur resapan

Bogor (Liputan6)— Siswa Sekolah Menengah Atas 6 Bogor, Jawa Barat punya cara kiat buat meredam banjir. Mereka membuat 14 sumur resapan di sekitar sekolah. Terbukti, saat di mana-mana kebanjiran, lingkungan SMA 6 Bogor bebas dari genangan air seperti yang terjadi baru-baru ini.
(lebih…)

Penanganan Depresi Pasca Banjir

Goenardjoadi Goenawan

Saat ini pembersihan rumah-rumah dari banjir telah hampir selesai, lumpur tebal telah dibersihkan, pembersihannya memakan waktu 4 hari. Bagaimana kondisi para korban banjir? Apakah masalah utama yang timbul yang dialami pasca banjir ini? Mengapa para korban banjir mengalami depresi berat? Apakah penyebab deresi tersebut?

Jangankan para korban banjir, yang rumahnya tidak kebanjiran namun mati listrik, dan mati PAM saja sudah sangat tersiksa. Kondisi gelap, panas, pengap, tidak bisa mandi, tidak ada kipas angin, dan tidak bisa melakukan hal yang paling simple, seperti charge handphone. Contohnya ini sharing teman kita yang kena banjir.

Baru bisa gabung lagi setelah lebih dari 1 minggu “terkukung” dalam “kegelapan”. Maklum rumah kebanjiran dan harus jadi nomaden. Dan terus terang saya mengalami depresi yg cukup berat selama periode kebanjiran kemarin itu. Saya paksakan untuk menulis posting ini karena mengharapkan hal ini bisa mengurangi stress saya tsb.

Kejadian kebanjiran di rumah saya ini adalah ke 3 kalinya (yg terhitung ‘huebat’); dari 1996, 2002 dan 2007 ini. Seperti juga mungkin dialami teman2 lainnya, banjir di Jakarta 2007 ini memang lebih parah juga menimpa saya sekeluarga. Tapi saya ingin tetap bisa mengambil “pelajaran” dari musibah ini.

Dari segi ‘kebutuhan’ (yg lagi lumayan ramai didiskusikan juga di sini), saya tiba2 merasakan suatu kebutuhan yg tinggi sekali dan tak dapat terpenuhi saat kebanjiran itu; yaitu kebutuhan atas INFORMASI. Saya tidak peduli dgn gak bisa makan/minum ataupun rasa aman….boro2 aktualisasi diri (ini istilah2 dari Maslow yah hehe). Stress saya adalah karena saya benar2 kekurangan informasi. Area saya tiba2 kalau malam hari seperti lautan luas yang gelap gulita dan sunyi. Tidak ada TV, orang pada takut keluar, gak ada koran yg datang karena siapa yg mau mengantarkan koran ke daerah yg banjirnya sudah sedada? Paling2 mendapat ‘sedikit’ berita dari radio saku dgn baterei saya….”sialnya” isinya nyaris seragam semua yaitu: pintu air A sudah sekian meter, banjir di daerah B masih tinggi, macet total di daerah C dan sejenisnya. Bukannya bikin gembira, eh ini informasi malah bikin aku makin stress. Pengen banget bisa akses internet…tapi pakai apa? HP saya batereinya sudah sangat tipis sehingga saya batasi hanya untuk SMS krn kalau habis, mau charge dimana? Saya belum baca bukunya mas Goen yg terakhir (BTW, saya beli 1 buku anda dan belum sempat saya baca, sekarang sudah jadi bubur kertas :-)….tapi moga2 mas Goen sudah memasukan adanya kebutuhan atas Informasi ini disana yah :-) Yang pasti ketidak-mampuan saya memenuhi kebutuhan atas informasi itu rasanya benar2 membuat saya jadi org ‘bego’ selama seminggu itu.

Saat siang hari, saya mengalami situasi yang lain lagi. Bila saya keluar menembus banjir, maka saya bertemu dengan berbagai macam individu yg ‘senasib’ dan tiba2 bisa dgn mudah berakrab-ria dengan mereka. Tolong-menolong jadi demikian mudah dan indahnya. Yg satu kasih segelas aqua, yg lain sebatang rokok dan yg lain lagi sekedar sharing informasi….wah lega dan rada terlepas sedikit stress-nya….padahal di sekitar kita air bercampur sampah campur aduk dgn baunya yg alamak banget….tp kita bisa tersenyum juga bersama disitu (walaupun ada juga bbrp org yg nimbrung ngobrol dgn umpatan2-nya hehe). Rasanya kalau dalam kondisi begini, gak perlu itu ada latihan kompati hehe….semua tiba2 jadi ahli berempati dgn org lain :-) Hilang perbedaan apakah kita WNI asli atau bukan,
apakah dia Muslim atau bukan, apakah dia kaya atau miskin dlsb. Mungkin inilah kekuatan ‘alam’ yang bisa menyatukan empati antar manusia yah. Mungkin ini PR buat Vincent dkk agar bagaimana kekuatan alam seperti itu selalu ada dalam diri kita masing2.

Hal lain yang saya perhatikan adalah bahwa memang situasi kritis/darurat akan lebih memacu kreatifitas manusia. Beberapa warga di RW saya tiba2 berubah profesi menjadi ‘ojek rakit’. Bahan rakitnya bermacam-macam sekali, ada yang pakai botol aqua galon, ada yg tetap ‘tradisional’ pakai bambu, ada yg pakai tong sampah, ada yg pakai gerobak sampah RT yg disulap jadi rakit, ada yg pakai ban mobil bekas, ada yang pakai kasur basah, macam2 deh. Dan penghasilan mereka sangat menarik lho….per orang bisa kena biaya Rp. 10rb hanya unt. jarak sekitar 300-400 meter (ya cuma jalannya di air yah :-)). Apakah mungkin bencana alam yg akhir2 ini terjadi di Indonesia adalah salah satu ‘jalan Tuhan’ agar insan Indonesia bisa lebih kreatif? Moga2 demikian!

Di saat yang bersamaan, saya juga bisa ‘menikmati’ perilaku angkuh dari sebagian orang. Lah sudah lihat di depan banjir sedada, ada saja org dgn motor dan mobil yang mencoba ‘nekad’ melewatinya. Ada satu mobil toyota jeep dgn. stiker angkatan di kaca belakangnya ditambah stiker perkumpulan berburu, ditambah pengemudinya yang pakai topi koboi, nekad dan mogok dan jadi bahan tertawaan para ojek rakit :-) Kacian deh loe!

Bagi sebagian orang lagi mungkin “cahaya” adalah kebutuhan pokok juga. Akibatnya setelah bbrp hari tidak ada listrik, tiba2 saya melihat cukup banyak ojek rakit membawa genset ke rumah2 yg masih dihuni. Saya dengar Carefour kena serbu org2 yg ingin beli genset sampai harganya melambung….dan org sudah tidak peduli lagi apakah itu genset buatan amerika, eropa, china or made in pulogadung :-) Saya sih masih cukup puas dengan lilin dan senter baterei saya saja.

Perasaan terisolasi cukup kental saat itu. Walaupun saya akhirnya harus mengungsi juga ke rumah teman, tapi tidak bisa jauh-jauh karena area saya boleh dibilang ‘terkurung’ banjir. Rumah teman tempat saya mengungsi juga kebanjiran walaupun hanya sebatas halamannya saja. Tapi ya tetap saja di rumah itu tidak ada listrik (untung PAM masih menyala). Di rumah teman itulah saya jadi merasa mendapat ‘teman karib baru’…krn sebelumnya saya hanya bertemu dia belum tentu 1 bulan sekali…tiba harus bertemu tiap hari untuk beberapa malam. Guyonannya cukup membuat saya mampu berkomunikasi dgn baik lagi.

Hal lain yg harus saya terima dgn iklas adalah bahwa usia memang tidak bisa dibohongi. Saat banjir 1996 seingat saya, saya masih kuat mengangkat perabotan rumah saya agar selamat dari air. Tp saat banjir kemarin, tiba2 saya merasa tenaga saya sudah sangat berkurang dibandingkan 11 thn lalu sehingga akibatnya lebih banyak perabotan rumah saya yang hancur. Yang paling saya sayangkan adalah buku2 saya yg jadi bubur kertas! Padahal ada sebagian buku2 itu yg belum tuntas saya baca atau bahkan belum sempat saya sentuh (masih mulus terbungkus plastiknya!)

Saya yakin ada rekan lain yg mengalami hal yg lebih parah daripada saya. Yah…semoga seberapapun parahnya musibah yang menimpa anda, ada pelajaran yang bisa kita peroleh. Teman saya bilang “Tuhan tidak akan memberikan musibah yang tidak dapat ditanggung manusia”. Saya percaya itu juga, khususnya dalam pengertian, mungkin tubuh kita tidak dapat menanggungnya, tapi jiwa dan iman kita seharusnya jauh lebih kuat dari tubuh fana kita.

Salam damai selalu

Saya ikut prihatin anda mengalami horor berhari-hari tanpa kejelasan, terkucilkan, terisolir, dan itu membuat anda depresi berat. KEBUTUHAN Manusia itu bukan makan minum saja, manusia bisa tidak makan berhari-hari dan bisa survive, kebutuhan dasar Manusia adalah kebutuhan untuk Didengar / berkomunikasi. Bila jeritan hati ini tidak didengar (tidak bisa saling berbagi), maka depresi akan menjadi gejala sakit. Sakit apalagi, kalau bukan sakit jiwa.

Yang menyelamatkan anda adalah kebutuhan kedua, yaitu KEBUTUHAN untuk empati, anda masih menerima kebaikan orang lain, dan dengan demikian anda amsih bisa memiliki harapan. Oleh karena itu, janganlah segan-segan untuk mengungkapkan kondisi anda kepada teman terdekat, ungkapan perasaan anda yang didengar akan membuat anda kembali pulih, istilahnya “aligning your spirit”, mengembalikan jiwa anda. Ini membuktikan bahwa membaca berita, membaca koran, misalnya adalah bukan demi berita, namun lebih berfungsi dalam keadaan tak pasti, informasi ketakutan bersimpang siur, kita memiliki pedoman, memiliki Kompas.

Ada istilah Crach syndrome, apad sebuah kejadian kaget luar biasa, atau tabrakan, maka tubuh akan mengalami goncangan jiwa, dan oleh karena itu 5 menit pertama adalah menenangkan diri, dengan berdoa, dengan minum air, sebab bila tidak, besar kecenderungan terjadinya metabolism breakdown bukan karena organ terbentur, atau terhantam, namun karena jiwa yang terguncang, sehingga tidak mampu mengendalikan metabolisme fungsi hati, jantung, paru-paru, penglihatan mata.

Buku-buku anda sudah hanyut menjadi bubur, namun anda menemukan buku anda yng paling mahal, yaitu buku hati anda. Mohon anda dapat menuliskan apa yang
terbaca dari hati anda, untuk apa manusia hidup? mengapa beban kok terasa semakin berat? mengapa hidup ini penuh penderitaan?

Bacalah, maka anda akan menemukan surga di hati anda.

salam,
Goenardjoadi Goenawan

sumber: http://groups.google.com/group/milis-fpk/browse_thread/thread/1e50745c9d478d1b/3e901a05d439448e?lnk=st&q=banjir+jakarta&rnum=4#3e901a05d439448e

Konservasi Air, Hindarkan Jakarta Tenggelam

Jakarta, Kompas – Penanggulangan banjir dan konservasi air tanah dapat dilakukan dengan membuat sumur resapan dan sumur injeksi secara masif. Upaya ini juga bermanfaat untuk menghindarkan Jakarta dari ancaman tenggelam akibat penurunan permukaan tanah.

“Kondisi air tanah di Jakarta sudah sangat kritis, karena pengambilannya tidak diimbangi dengan pengembaliannya. Dengan demikian permukaan tanah akan terus turun dan makin tenggelam di bawah permukaan laut, jika tidak diikuti rekayasa dan konservasi air tanah,” kata Kepala Subdirektorat Pengelolaan Konservasi Panas Bumi dan Air Tanah Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Danaryanto, Selasa (13/2).

Banjir tahun ini memunculkan gagasan untuk menampung air hujan sebanyak-banyaknya di daratan. Sehingga pada musim kemarau nanti, air bisa dipanen.

Sementara itu kalangan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) merekomendasikan gagasan menetapkan beberapa titik sumur resapan hingga mencapai aliran sungai purba, biasanya terletak tak jauh dari aliran sungai yang sekarang ada.

Akademisi Universitas Indonesia memunculkan gagasan membuat tandon air di dalam tanah, untuk menampung air hujan dan mendaur ulang air limbah.

Penurunan permukaan tanah di Ancol misalnya mencapai 12 mm per tahun. Pada tahun 1970an LIPI telah memperkirakan penurunan tanah di Jakarta dalam 25 – 30 tahun mencapai 90 cm. (NAW)

sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/14/humaniora/3316704.htm, Rabu, 14 Februari 2007

Kota Bebas Banjir?

Kawan-kawan yb.

Terlampir beberapa gagasan untuk mengatasi banjir sebagai sumbangan pikiran. Mungkin salah, mungkin benar. Mohon tanggapan, untuk kepentingan kita bersama mencari jalan terus menerus. Mari kita
jangan bicara banjir hanya ketika banjir berlangsung, tetapi seterusnya, sepanjang tahun.

Salam,
Marco Kusumawijaya

—————————-

Kota Bebas Banjir?

Marco Kusumawijaya
(Arsitek perkotaan, Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta (2006-2009))

Siklus Banjir

Banjir terjadi karena ada selisih positif antara jumlah air yang turun ke bumi dengan jumlah air yang diserap dan dialirkan melalui jalur-jalur yang dikhususkan baginya, pada suatu wilayah dan waktu tertentu. Selisih ini mengalir atau menggenang di tempat-tempat yang tidak dimaksudkan untuknya.

Siklus banjir tidak sama dengan siklus cuaca atau hujan. Siklus banjir adalah siklus dari selisih air tersebut di atas. Jumlah air yang menguap dari, dan turun kembali ke, bumi adalah sama setiap tahunnya hingga beberapa dasawarsa terakhir, ketika pemanasan global membuatnya cenderung terus bertambah, dan air ini jatuh ke bumi dalam rentang waktu yang cenderung makin pendek. Jumlah air ini tidak bersifat siklis. Yang bersifat siklis adalah kemampuan prasarana (buatan manusia!) mengalirkan air dan permukaan bumi menyerap air (yang tergantung kepada perilaku manusia juga).

Saluran dirancang dengan parameter beban tertentu yang diperkirakan akan mencapai maksimum dalam jangka waktu tertentu, misalnya lima atau sepuluh tahun ke depan. Beban ini akan naik karena peningkatan kegiatan dan pembangunan oleh manusia, di samping peningkatan jumlah uap air oleh pemanasan global. Siklus terbentuk karena selisih di atas menjadi positif ketika parameter itu dilampaui, dan menjadi negatif kembali ketika prasarana baru dibangun, sampai menjadi positif lagi ketika kapasitas prasarana tambahan itu terlampaui lagi. Kapasitas resapan juga bersiklus seperti di atas dikarenakan sebab yang sama.

Yang ingin ditekankan adalah bahwa yang bersifat siklus itu banjirnya, bukan cuaca atau hujannya. Yang menentukan siklus itu adalah kemampuan suatu wilayah mengalirkan dan menyerap air. Dan yang menentukan ini adalah MANUSIA, bukan alam.

Tata kota dapat mengurangi banjir sejauh ia memberi ruang untuk suatu sistem menyerap dan mengalirkan air sedemikian rupa sehingga tidak terjadi selisih positif yang liar di atas.

Berbagai sebab banjir dan genangan

Kampung Melayu banjir oleh luapan Ciliwung. Kawasan Cipinang oleh luapan sungai lain lagi. Sedang Kelapa Gading tergenang oleh air hujan yang terjebak di dalamnya, tersebab sistem saluran yang tidak sampai mengalirkan air ke tempat parkir terakhir yang mencukupi (laut atau waduk penampung). Halaman kompleks Sarinah dan Jalan Thamrin di depannya tergenang karena saluran yang rusak, tidak memadai, atau terlampaui kapasitasnya. Pada sungai yang meluap, faktor “kiriman” menonjol, sedang pada genangan kawasan yang jauh dari sungai, faktor hujan menonjol. Tetapi semuanya tidak dapat dipisahkan 100% satu dari lainnya, ada kait-mengait di antara semuanya.

Empat dimensi penanganan: hulu, hilir, menyerap dan mengalir

Beberapa prinsip di bawah ini kiranya dapat dijabarkan lebih lanjut untuk menata kota menanggulangi banjir:

1. Keseimbangan antara menyerapkan dan mengalirkan air.

Untuk mengalirkan air diperlukan sungai dan saluran membawa air ke tujuan akhir, misalnya laut atau waduk, sehingga tidak mengganggu kegiatan manusia.

Untuk menyerapkannya diperlukan ruang terbuka dengan tanah yang menyerap air. Umumnya tanah berupa campuran lempung yang menggenangkan air, dan pasir yang menyerapkan air. Meningkatkan daya serap tanah berarti meningkatkan (sifat) pasir dari tanah. Tumbuhan dapat memperlambat jatuhnya air ke tanah (berarti: menunda air mengalir di permukaan dan menyerap ke dalam tanah) dan memegang air lebih lama pada daerah di sekitar akarnya.

Umumnya sifat tanah asli Jakarta mengandung banyak lempung, sehingga memang kemampuan menyerapnya relatif rendah. Jadi meningkatkan daya serap kota Jakarta terhadap air tidak cukup hanya dengan memperluas ruang terbuka, tetapi harus dibarengi dengan mengubah tanahnya agar lebih menyerap air. Ruang terbuka yang tertutup aspal tidak berguna sebagai penyerap air. Ruang-ruang terbuka yang besar dan bersifat khalayak makin menyusut di Jakarta. Proses ini harus dihentikan. Selain itu di setiap kavling lahan masih terdapat ruang terbuka berupa halaman. Bila ini dijumlahkan, maka besar sekali. Jadi meningkatkan daya serap Jakarta dapat juga dilakukan pada halaman-halaman ini, tidak selalu harus pemerintah membebaskan lahan baru sebagai ruang terbuka. Meningkatkan daya serap tiap-tiap halaman ini punya dua keuntungan efektif. Pertama, ia merata di seluruh Jakarta. Kedua, ia membangkitkan peran serta masyarakat.

Menyerapkan air berguna memperbaiki air tanah, dan akhirnya memperbaiki struktur tanah, serta melawan intrusi air laut. Ruang terbuka hijau juga penting untuk pemurnian udara dan fungsi sosial.

Penyerapan air perlu dilakukan di hulu maupun hilir, di seluruh daerah tangkapan air. Penyerapan air membantu keberkelanjutan bila dilakukan oleh tiap kavling lahan, karena tidak memindah-mindahkan masalah (aliran air buangan) ke tempat lain, menyelesaikannya pada sumbernya, dan memotong pertumbuhan “demand” dan “beban” pada khasanah khalayak.

Ruang terbuka perlu menerapkan pengelolaan yang aktif (active management) dengan peranserta warga, sehingga tidak diserobot oleh fungsi dan kepentingan lain, dan bermanfaat dalam berbagai dimensi sehingga kedudukannya di tengah-tengah masyarakat menjadi kuat.

2. Keseimbangan antara tindakan kolektif dan tindakan individual

Tindakan individual dan kolektif pada tingkat kecil (RT, RW, komunitas) perlu ditekankan untuk membangun modal sosial yang akan menjamin keberlanjutan. Kesibukan menuntut pemerintah melakukan segalanya justru akan memperpanjang mentalitet feodal berupa ketergantungan, inertia, dan membuat biaya lingkungan makin tinggi. Misalnya, membangun saluran kolektif yang lebih besar, karena kegagalan individual untuk menyerapkan air pada lahannya masing-masing, adalah lebih mahal secara ekonomi maupun lingkungan. Inilah sebabnya pendekatan “menyerapkan air” lebih ramah lingkungan secara sosial, selain secara ekologis. Pada prinsipnya sebanyak mungkin harus dilakukan oleh individu atau kolektif yang terkecil, sebelum diputuskan untuk naik ke tingkat berikutnya. Tapi tindakan individual yang salah bisa juga memperparah keadaan. Misalnya upaya tiap rumah berlomba-lomba meninggikan rumahnya sama sekali tidak menyelesaikan masalah banjir, tapi malah memperparah. Begitu juga penggunaan AC, yang sebenarnya hanya memindahkan panas dari ruang privat dan menumpukkannya ke ruang khalayak.

3. Tindakan sekaligus pada berbagai skala: lokal, nasional, dan global.

Kita tidak dapat lagi menghabiskan waktu meragukan dan berheran-heran tentang pemanasan global. Pemanasan global adalah fakta, bukan teori. Musim kering yang panjang, musim hujan yang singkat, jumlah air yang meningkat, adalah satu dasar penting bagi Indonesia untuk terlibat aktif dalam politik lingkungan pada skala global. Juga sangat tidak produktif memperdebatkan siapa yang paling bertanggung jawab. Semua orang dan pihak bertanggung-jawab, tetapi memiliki peran yang berbeda-beda. Sebab itu ada prinsip “shared responsibility, differentiated roles.” Pemimpin tentu saja tidak dapat menggunakan ini sebagai alasan berdiam diri. Perannya adalah memimpin, berprakarsa. Keseimbangan penanganan pada hulu dan hilir perlu melibatkan berbagai daerah dan pemerintah pusat. Begitu juga penanganan sosial-ekonomi seperti pada kemiskinan, juga memerlukan tindakan pada tingkat nasional.

4. Keseimbangan antara tindakan di kawasan hulu dan hilir.
Sebagian air yang melewati Jakarta berasal dari wilayah hulu di luar batas administrasinya. Membangun kanal di Jakarta saja, tanpa mengurusi kawasan hulu di Bogor dan lain-lain, sama seperti menunggu air tanpa tahu berapa jumlahnya.

5. Keseimbangan antara eksploitasi dan investasi lingkungan.
“Susainable city is a possible dream,” kata Prof. John Friedman di World Urban Forum, tanggal 19 Juni 2006. Lanjutnya, “It means a city embedded in its region.” Maksud nya kota-kota harus bertanggung jawab untuk memelihara lingkungan sekitarnya, dengan melakukan re-investasi sehingga kota dan lingkungannya tersebut merupakan suatu kesatuan aset yang berkelanjutan. Kenyataannya, melalui konsep ecological footprint, kita kini dapat melihat jelas bahwa setiap kota sebenarnya “membebani” wilayah yang lebih luas daripada tapak fisiknya sendiri. Hal yang sama mungkin terjadi pada setiap kavling di dalam kota Jakarta. Pembangunan berlebihan pada tiap-tiap kavling sebenarnya bukan saja membebani diri sendiri tetapi juga membebani lingkungannya. Ini berarti bukan Jakarta harus berhenti membangun, tetapi kompensasi dari setiap pembangunan per kavling harus dihitung lebih cermat sehingga seluruh beban lingkungan tambahan yang ditimbulkannya dapat sungguh terbayar. Akibat terburuk dari kebijakan ini mungkin adalah sebagian investasi akan lari ke kota lain. Hal ini malah baik!

6. Keseimbangan antara solusi teknis dan solusi sosial-politik, budaya dan ekonomi.

Tanah, air, ruang dan lingkungan adalah barang sosial. Sebab itu semua tindakan padanya pasti memiliki dimensi-dimensi sosial. Soal ini hendaknya menyangkut bukan hanya substansi kebijakan, tetapi juga proses penyusunan kebijakan. Pasca-Suharto sudah seharusnya kita menjadi “beradab”, menganggap rakyat sebagai pemilik negeri ini. Mereka berhak tahu secara transparan tentang segala hal dan serta dalam membuat keputusan. Sekarang kita mulai mendengar pemerintah nyeletuk dengan gagasan-gagasan fragmentarik seperti membangun 200 situ, di samping beberapa rencana lainnya. Masyarakat berhak tahu lebih spesifik: Mengapa 200? Seberapa jauh mereka dapat mengurangi banjir, bagaimana cara kerjanya? Kita tidak bisa menilai 200 situ itu cukup atau efektif kalau tidak dikaitkan dengan keseluruhan rencana, dengan parameter yang jelas, dan dimensi-dimensi yang terukur. Masyarakat juga perlu diberitahu peta semua faktor penyebab banjir dan, lebih penting lagi, besarnya kontribusi dari masing-masing faktor tersebut. Mereka berhak akan strategi jitu dengan pilihan-pilihan dan konsekuensi-konsekuensi yang jelas.

sumber: Marco Kusumawijaya (marcokw@centrin.net.id)

SAFETY ADVICE FOR FLOODING
Advis Keselamatan untuk Banjir

Dear colleagues,
Rekan Sekerja,

I would be grateful if you would disseminate to all your staff the following advice on safety issues associated with flooding. This is an expanded version of what was sent by email last Friday and again by sms over the weekend in that it contains important first aid information.
Saya sangat berterimakasih jika Anda dapat menyebarkan saran tentang issue keamanan yang berkaitan dengan banjir. Saran/Advis ini adalah versi lengkap dari versi sebelumnya yang disebarluaskan melalui email pada Jumat lalu, serta SMS selama akhir minggu mengenai informasi tentang standard pertolongan pertama.

Thank you very much.
Terima kasih banyak

Reg Mills
CSA

ADVICE
Saran/Advis

In the likely event that flooding in the Greater Jakarta area should worsen over the coming days or weeks, clients should consider the following advice:
Sehubungan dengan kemungkinan memburuknya banjir di daerah Jakarta dan sekitarnya dalam beberapa hari atau minggu ke depan, staff perlu mempertimbangkan saran berikut ini:

Preventive Action for Floods
Tindakan preventif atas banjir

Find out if you live in a flood prone area. If your area is prone to flooding, learn about the neighborhood unit’s emergency plans and evacuation routes.
Pelajari tentang kawasan tinggal anda. Cari tahu apakah anda tinggal di daerah rawan banjir. Jika daerah tempat tinggal Anda rawan banjir, pelajari rencana gawat darurat di daerah tersebut dan juga rute evakuasi yang ada.

Discuss with your family and those around you what to do in the case of a flood. Develop a home evacuation plan and practice it with your family.
Diskusikan dengan keluarga dan orang disekeliiling Anda tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi banjir. Buatlah rencana evakuasi rumah Anda dan lakukan latihan dengan keluarga Anda.

Learn how to shut off utilities such as gas, electricity and water. Teach adults and older children where electric fuse boxes are and how to turn them off if necessary.
Pelajari bagaimana caranya mematikan peralatan seperti Gas, Listrik, air dan kompor. Ajarkan kepada orang dewasa dan anak yang lebih tua dimana letak kotak saklar listrik dan cara mematikannya.

Establish a ‘family contact’ in case your family is separated during a flood. Make sure everyone in your family knows the name, address and phone number of this contact person.
Mempersiapkan “kontak keluarga” apabila keluarga Anda terpisahkan selama waktu banjir. Pastikan semua orang dalam keluarga Anda tahu nama, alamat dan nomor telpon dari kontak person ini

Inform local authorities or security guards within your residential complex about any special needs, i.e., elderly or bedridden people, or anyone with a disability.
Informasikan kepada pihak berwenang atau penjaga keamanan di kompleks rumah Anda tentang kebutuhan khusus misalnya orang lanjut usia atau orang yang sakit di tempat tidur, atau orang dengan kondisi tertentu

Plan how to take care of pets.
Rencanakan bagaimana untuk mengurus hewan peliharaan

Have a flashlight and a battery powered radio available and in good condition. Maintain a list of items, which should be removed to higher ground or secured.
Sediakan senter dan radio bertenaga batere dan pastikan dalam kondisi yang bagus. Buatlah daftar barang yang harus dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi atau aman.

Purchase and maintain a fire extinguisher and make sure family members know where it is and how to use it.
Beli dan jagalah alat Pemadam Api dan pastikan anggota keluarga tahu dimana diletakkan dan bagaimana cara menggunakannya

Emergency Supplies To Have On Hand
Persediaan Gawat darurat yang harus dimiliki

Several containers filled with clean water.
Beberapa tempat penampungan yang terisi dengan air bersih

A supply of non-perishable food.
Persediaan makanan yang tahan lama

A first aid kit, prescription medications and special medical needs supplies.
Perlengkapan P3K, obat-obatan yang diresepkan dan persediaan kebutuhan medis khusus

A battery powered radio, flashlights and extra batteries.
Radio bertenaga batere, lampu senter dan batere cadangan

Sleeping bags or extra blankets.
Kantong tidur dan selimut ekstra

If there is an infant in the house: baby food, and/or prepared formula, diapers and other baby supplies.
Jika ada bayi di dalam rumah: makanan bayi dan/atau susu, popok dan perlengkapan bayi lainnya

Disposable cleaning cloths, such as baby wipes for the whole family to use in case bathing facilities are not available.
Kain pembersih yang sekali pakai, seperti tissue basah bayi untuk seluruh anggota keluarga untuk digunakan jikalau fasilitas mandi tidak tersedia

Personal hygiene supplies, such as soap, toothpaste, sanitary napkins, etc.
Perlengkapan higienis personal, seperti sabun, pasta gigi, pembalut dll

Cash and credit cards.
Uang tunai dan kartu kredit

Rubber boots, sturdy shoes and waterproof gloves and clothing.
Sepatu bot karet, sepatu yang kuat, serta sarung tangan dan pakaian anti-air

Insect repellent for protection from mosquitoes, which may gather in stagnant water.
Pengusir serangga untuk perlindungan terhadap nyamuk, yang mungkin terdapat di genangan air

Precautionary Measures
Standard mengenai kapan situasi mulai berbahaya

Move vehicles and other portable equipment that you will not use in an evacuation to higher ground.
Pindahkan kendaraan dan perlengkapan portable, yang tidak akan anda gunakan dalam evakuasi, ke tempat yang lebih tinggi

Gather and list the emergency supplies you previously stocked.
Kumpulkan dan buat daftar persediaan gawat darurat yang sudah Anda stok

Keep in contact with your neighbors.
Tetap berhubungan dengan tetangga Anda

Secure valuable papers and items that can be taken with you if you need to evacuate.
Amankan kertas dan barang berharga yang bisa Anda jikalau Anda membutuhkan evakuasi

Comply with all conditions for coverage as specified in your flood insurance policies.
Patuhi semua kondisi yang dicakup dalam klausul banjir sebagaimana terdapat dalam polis asuransi Anda

Keep children of all ages OUT of flood waters- the water may be contaminated and hazardous.
Jauhkan anak semua usia dari air banjir – air tersebut mungkin terkontaminasi dan berbahaya

Become familiar with the location of power lines and cables in your area, so that in the event of damage or collapse those areas can be avoided.
Kenali lokasi jaringan listrik dan kabel di area anda, jadi dalam situasi kerusakan daerah tersebut dapat dihindari

Evacuation Preparation
Persiapan evakuasi

Fill your car’s fuel tank and make sure the emergency kit for your car is ready.
Isi penuh tanki bahan bakar kendaraan Anda dan pastikan perlengkapan gawat darurat dalam mobil siap.

If no vehicle is available make arrangements with friends or family for transportation.
Jika tidak tidak ada kendaraan yang tersedia, buatlah pengaturan dengan teman atau keluarga untuk transportasi

Have a predetermined destination by making arrangements such as a hotel or motel. Plan for more than one (1) nights stay.
Punya tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya dengan membuat pengaturan misalnya hotel atau motel. Rencanakan untuk tinggal lebih dari satu (1) malam

Review your emergency plans and supplies.
Kaji kembali rencana dan persediaan gawat darurat

Prepare appliances for flooding. Shut off electrical appliances at the fuse box.
Persiapkan perlengkapan Rumah tangga untuk banjir. Matikan saklar listrik.

Move hazardous materials to higher locations. That includes paint, oil, cleaning supplies, gasoline and other hazardous materials.
Pindahkan material berbahaya ke lokasi yang lebih tinggi. Termasuk didalamnya cat, oli, perlengkapan pembersih, bensin dan material berbahaya lainnya.

Tune in to radio or television for weather updates; check for updated advisories.
Nyalakan Radio atau TV untuk info terkini tentang cuaca, periksa untuk saran terkini

Snake Bites
Gigitan Ular

As in previous years there will be instances of snakes and other creatures being found in residential compounds as they search for dry ground. If you come across a snake or other dangerous creature, LEAVE IT ALONE. Do not go near it. Report its location to security guards. Inform children to be aware as they play outside.
Sebagaimana yang terjadi tahun sebelumnya akan ada situasi dimana ular dan binatang lainnya ditemukan di dalam area rumah karena mereka mencari daerah yang kering. Jika Anda menemukan ular atau binatang berbahaya lainnya, JANGAN DIGANGGU. Jangan mendekatinya. Laporkan lokasinya kepada penjaga keamanan. Beritahu anak-anak untuk berhati-hati jika mereka bermain diluar rumah.

If someone suffers a snake bite:
Jika seseorang digigit ular:

Rest and reassure the casualty
Istirahatkan dan pastikan kondisi si korban

Immobilize the casualty and apply a compression bandage along the bitten limb, toes to hip or fingers to shoulder
Jangan gerakkan si korban, tekan dan balut anggota tubuh yang tergigit dengan kain pembalut, Ibu jari sampai ke pinggang, atau jari tangan sampai ke bahu.

Monitor the casualty’s vital signs
Monitor tanda vital si korban

Evacuate to medical centre as soon as possible
Evakuasikan ke pusat layanan medis secepatnya.

Resting the casualty is the key. It slows down the movement of the venom through the body.
Mengistirahatkan si korban adalah kuncinya. Hal ini akan memperlambat pergerakan bisa ular ke seluruh tubuh.

Signs and Symptoms
Tanda dan gejala

Puncture mark(s)/welts
Tanda gigitan

Pain, swelling, rash
Rasa Sakit, pembengkakan dan tanda-merah di kulit

Muscle weakness
Otot lemas

Drooping eyelids
Airmata mengalir

Altered conscious state
Perubahan kondisi kesadaran

Allergic reactions
Reaksi alergis

sumber: Reg Mills, CSA, UNDSS, Indonesia
+62 (0)811856365, Email: reg.mills@undp.org

Saran kepada Donor dan Penderma

Para korban banjir yang sudah lebih dari satu minggu hidup di tempat pengungsian masih hidup dalam keprihatinan. Kebanyakan anak-anak menjadi korban yang paling terimbas dampak banjir, sering terabaikan hak sehatnya.

Saya ingin menyarankan kepada para pendonor dan penderma, baik individu maupun lembaga agar tidak mendistribusikan susu formula untuk balita. Karena pembagian susu formula kepada korban banjir yang tidak memiliki akses terhadap air bersih hanya akan memperparah kondisi kesehatan anak.

Selain itu, higinitas botol dan dot juga dipertanyakan, mengingat keterbatasan air bersih untuk mencuci dan merebusnya. Anak menjadi mudah terserang diare dan penyakit lainnya, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Sebaiknya orang tua dengan anak yang masih menyusui diarahkan agar terus menyusui anaknya.

semoga bermanfaat. terima kasih.

salam,
Fajar Arif Budiman
Project Officer, Health System Strengthening, unicef
Wisma Metropolitan II, 10th floor Jakarta 12920
Phone: (62-21) 5705516 ext. 548 Fax: (62-21) 5711326
Mobile: 08129942310 email: fabudiman@unicef.org

sumber: Fajar Arif Budiman

Kesehatan Perempuan Ketika Banjir
Jurnalis: Henny Irawati

Jurnalperempuan.com-Jakarta. Kementerian Pemberdayaan Perempuan menghimbau agar relawan atau aktivis yang membantu korban banjir memberikan bantuan yang benar-benar menjadi kebutuhan perempuan. Pembalut misalnya. Setelah himbauan ini dilaksanakan, ketika turun di lapangan masih ada yang terlupa oleh mereka.

“Kantung plastik,” ungkap Atas Hendartini Habsjah, ketika ditemui di kantor Yayasan Jurnal Perempuan, kemarin (8/2). Begitulah kebutuhan perempuan diperlakukan. Kalau tidak ditiadakan, dia hanya dipenuhi sepotong-sepotong.

Kantong plastik yang sepertinya sepele itu ternyata sangat berguna untuk membungkus pembalut yang telah dipakai. “Kalau tidak disediakan, itu akan jadi masalah juga,” jelas perempuan yang aktif di Yayasan Kesehatan Perempuan ini. Mulai Selasa (6/2) lalu pengumpulan dilakukan. Selain itu, yang paling menyedihkan, tambah Atas, adalah susahnya mencari air bersih untuk perempuan yang sedang haid. “Untuk minum saja tidak ada.” Padahal, kalau tidak dibasuh dengan air bersih maka keadaan itu akan mengundang bakteri dan virus.

Lebih lanjut Atas menjelaskan, kesehatan reproduksi bukan hanya terbebas dari penyakit tetapi juga ketertekanan mental. “Ditemukan seorang ibu di satu-satunya bangunan untuk pengungsian,” kutip Atas dari sebuah tanyangan di televisi, “ternyata baru 3 hari yang lalu ia melahirkan.” Ia menyayangkan kenapa ibu tersebut tidak dirawat saja di Puskesmas, tempat ia melahirkan. Padahal, Puskemasnya itu tidak jauh dan, kebetulan, tidak terendam.

“Bicara soal kesehatan dan pendidikan selalu ada aspek sosialnya,” tegas ibu yang 20 tahun bergerak di bidang kesehatan itu. Perlakuan yang diberikan pada ibu yang baru melahirkan tersebut bukan tidak mungkin akan menambah Angka Kematian Ibu yang sudah sedemikian tinggi di Indonesia. Apalagi kemudian diketahui ibu tersebut sakit panas.

Ibu yang sedang menyusui pun terancam berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Lagi-lagi menyitir siaran televisi yang ia saksikan, Atas bercerita tentang ibu-ibu yang mendatangi dengan menggendong anaknya. Mereka mengeluh tidak mendapat susu. 2 hari ini mereka juga tidak dapat menyusui. “Stres menghadapi banjir itu juga bisa menghambat keluarnya ASI.”

Masih banyak lagi situasi perempuan yang terancam akibat datangnya banjir. Sebut saja perempuan yang sedang hamil tua, perempuan yang sedang menjalankan Keluarga Berencana, dan sebagainya. Deret panjang ini masih akan bertambah dengan kesehatan reproduksi non-fisik lainnya. Misalnya pelecehan atau perkosaan (vaw-violence againts woman) yang terjadi di tenda-tenda pengungsian, “berdasarkan International Conference on Population and Development (ICPD) yang digelar pada tahun 1994 vaw termasuk 9 item yang mendapat perhatian dalam kesehatan reproduksi perempuan,” jelas Atas.

Ketika ditanya kenapa penanganan perempuan sering luput, Atas juga menyampaikan keheranannya. “Banyak manual sudah diterbitkan. Tapi pelaksanaannya selalu mendapat hambatan,” ucapnya tak habis pikir dan tanpa menganalisa lebih lanjut.*

sumber: Henny Irawati , Jumat, 9 Februari 2007